Kamis, 27 September 2012

Sejarah sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu, dan Seni

Sejarah sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu, dan Seni

1. Sejarah sebagai peristiwa
          Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau menjadi sangat penting
dalam pembahasan ilmu sejarah. Melalui peristiwa, ilmu sejarah mendapat gambaran
tentang kehidupan manusia di masa lampau. Sejarah sebagai peristiwa yang telah terjadi
pada masa lampau mengakibatkan kita tidak mungkin lagi mengamati peristiwa tersebut,
yang dapat kita amati adalah sejarah sebagai kisah, yaitu penelaahan sejarah sebagai kisah
suatu peristiwa. Sejarah sebagai peristiwa, maksudnya peristiwa sejarah ditempatkan
sebagai fakta, kejadian, dan kenyataan yang benar-benar terjadi pada masa lampau.
Kejadian masa lampau tersebut dapat dijadikan dasar untuk mengetahui dan merekonstruksi
kehidupan pada masa tersebut. Dari peristiwa-peristiwa itu, dapat diketahui sebab akibat
terjadinya suatu peristiwa. Tanpa memandang besar kecilnya suatu peristiwa atau
kejadian-kejadian dalam ruang lingkup kehidupan manusia, ilmu sejarah berusaha menyusun
rangkaian peristiwa yang terjadi dalam ruang lingkup kehidupan manusia sejak dahulu
sampai sekarang, bahkan prediksi kejadian yang akan datang.
2. Sejarah sebagai kisah
        Semua hasil karya cipta manusia merupakan suatu bukti dari kisah manusia yang
hidup dan dinamis. Membicarakan sejarah sebagai kisah tidak lepas dari peristiwaperistiwa
sejarah yang terjadi pada masa lampau. Sejarah sebagai kisah adalah hasil karya,
cipta, dan penelitian berbagai ahli yang kemudian menulisnya. Penulisan yang dapat dipertanggungjawabkan harus melalui penafsiran yang mendekati kebenaran peristiwa
yang terjadi. Sementara itu, untuk merekonstruksi kisah sejarah harus mengikuti metode
analisis serta pendekatan tertentu. Dengan kata lain, sejarah sebagai kisah adalah kejadian
masa lalu yang diungkapkan kembali berdasarkan penafsiran dan interpretasi yang dapat
dipertanggungjawabkan. Menyusun kisah sejarah dari suatu masyarakat, bangsa, dan
negara tidaklah mudah karena jejak-jejak sejarah yang ditinggalkannya tidak sedikit. Oleh
karena itu, dalam penyusunannya memerlukan penelaahan yang sangat jeli dan bijaksana
serta verifikatif sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penyusunan sejarah
sebagai kisah, para sejarawan menggunakan dasar jejak-jejak yang ditinggalkan oleh
sejarah sebagai peristiwa. Jejak-jejak sejarah yang berisi kehidupan rangkaian peristiwa
atau kejadian dalam lingkup kehidupan manusia menjadi sumber penting dalam penulisan
kisah sejarah.

3. Sejarah sebagai ilmu
          Sejarah dikatakan sebagai ilmu karena merupakan pengetahuan masa lampau yang
disusun secara sistematis dengan metode kajian secara ilmiah untuk mendapatkan kebenaran
mengenai peristiwa masa lampau. Menurut C.E. Berry, sejarah adalah suatu ilmu
pengetahuan, tidak kurang dan tidak lebih. Adapun menurut York Powell, sejarah bukanlah
hanya sekadar suatu cerita indah, instruktif, dan mengasyikkan, tetapi merupakan cabang
ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan harus
dibuktikan secara keilmuan dengan menggunakan metode-metode dan berbagai standar
ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Kebenaran itu dapat dibuktikan dari dokumen
yang telah diuji sehingga dapat dipercaya sebagai suatu fakta sejarah. Sejarah dianggap
sebagai ilmu sebab sejarah memiliki syarat-syarat ilmu, antara lain ada masalah yang
menjadi objek, ada metode, tersusun secara sistematis, menggunakan pemikiran yang
rasional, dan kebenaran bersifat objektif.

Jika melihat hal tersebut, sejarah sebagai ilmu dapat memenuhinya, dikarenakan:
a. objek kajian sejarah ialah kejadiankejadian di masa lalu yang merupakan sebab akibat;
b. adanya metode sejarah yang menghubungkan bukti-bukti sejarah;
c. kisah sejarah tersusun secara sistematis dan kronologis;
d. kebenaran fakta diperoleh dari penelitian sumber yang disusun secara rasional dan kritik (penilaian) yang sistematis;
e. fakta bersifat subjektif karena tiap orang melihat masa lampau dengan cara yang
berbeda. Kebenaran hanya "milik" peristiwa ini sendiri. Namun kebenaran fauna adalah
juga objektif, maksudnya kebenaran harus diakui oleh intersubjektivitas atau diakui
oleh banyak sejarawan dan masyarakat luas.

4. Sejarah sebagai seni
            Tokoh penganjur sejarah sebagai seni adalah George Macauly Travelyan. Ia
menyatakan bahwa menulis sebuah kisah peristiwa sejarah tidaklah mudah, karena
memerlukan imajinasi dan seni. Menulis sejarah merupakan seni, filsafat, polemik, dan
dapat sebagai propaganda. Sejarawan abad 19 bernama Comte, Spencer, dan Mill
menyebutkan bahwa metode dan sikap ilmiah pengetahuan alam dapat dipergunakan untuk
mempelajari sejarah, tanpa memerlukan modifikasi lebih lanjut. Namun menurut Dithley,
seorang filsuf modern, menyatakan bahwa hal tersebut adalah tidak benar, sebab sifat
alami dari pengetahuan alam adalah sesuatu yang selalu nyata dan terlihat, sehingga
sejarah yang bersifat abstrak tidak mudah menganalisisnya. Oleh karena itu, sejarah adalah
pengetahuan tentang rasa. Dithley menambahkan bahwa pemahaman dengan cara imajinatif
mampu menjadikan fakta sejarah lebih hidup dan lebih berarti. Itulah sebabnya, menurut
George Macauly Travelyan dalam penulisan kisah sejarah harus menggunakan bahasa
yang indah, komunikatif, menarik, dan isinya mudah dimengerti. Dengan demikian,
diperlukan seni dalam penulisan sejarah sehingga tercipta suatu peristiwa sejarah yang
dapat dipelajari secara urut, lengkap, menarik, dan tidak membosankan. Oleh karena itu,
seorang sejarawan harus bersedia menjadi ahli seni untuk menghidupkan kembali kisah
kehidupan di masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang. Dengan demikian selain
elemen ilmiah sejarah juga mengandung elemen seni.



Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar